Entri Populer

Jumat, 02 Desember 2011

masa kecilku tak seindah mereka

saya lahir di kalangan orang yang tidak mampu,orang tua saya bekerja sebagai sopir truk dan ibu saya hanya sebagai ibu rumah tangga.Saya hanya dua bersaudara,nama adik saya adalah Mike Okta Viola.waktu saya kecil saya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil dan sangat kumuh.
dengan penghasilan orang tua yang pas-pasan kami sekeluarga hidup apa adanya,dapat makan saja kami sudah besyukur,ketika malam datang kami hanya istirahat diatas sebuah kasur yang sudah robek-robek,disanalah kami berkumpul dan bercerita-cerita,biasanya setiap malam ibu saya pergi menonton kerumah tetangga karna pada saat itu ibu saya sangat suka sekali film telenovela.
ketika saya kecil saya sangat sering sekali marah kepada ibu,karna ibu tidak pernah masak masakan kesukaan saya,yaitu dendeng daging,yang ibu masak selalu ikan asin atau acar.saya sangat membenci kedua makanan tersebut,tapi setiap saya meminta dendeng sama ibu,ibu selalu berkata "iya-iya,besok ibu buatkan."tapi kenyataanya saya hanya dapat janji dari ibu.karna itu saya selalu ngambeg dengan ibu,beda dengan adik saya,dia selalu makan lahap dengan apapun lauk yang di buat ibu.
Dimasa kecil saya,saya selalu dijauhi oleh teman-teman saya,bahkan pernah sewaktu saya menumpang nonton TV di rumah teman saya,mereka berkata "eeehhh....ada Egi,nantik lah nontonya!!"dan mematikan televisi.dan saya pun sadar diri,lalu saya pergi,namun ketika saya baru keluar dari rumah tersebut,saya mendengar suara televisi di hidupkan kembali,karna saya sangat ingin sekali menonton,dengan diam-diam saya menonton lewat jendela rumah tersebut,tapi sayang....mereka juga mengetahui aksi saya,dan merekapun menutup jendela dengan kain gorden dan mengunci pintu.Ketika itu saya menangis pulang dan membicarakanya kepada ibu saya sambil menangis.
suatu hari ayah saya masuk tahanan karena terjadi sebuah kecelakaan yang mengenai kendaraan ayah saya,saat itu saya melihat air mata ibu tak henti-hentinya keluar dan saya hanya bisa terdiam. waktu itu ibu tampak panik karna dia memikirkan bagaimana kelansungan hidup jika ayah saya di tahanan,pada saat itu ibu berusaha mengendalikan situasi,dia pergi bekerja sebagai pencetak batu bata.saya tidak tau persis ibu digaji berapa,yang jelas kami masih bisa tetap makan.setiap pagi hingga sore saya hanya tinggal berdua dengan adik saya,karena ibu pergi bekerja.ketika makan siang ibu mengantarkan kerumah dan tak lama kembali ketempat bekerja,setelah hari sore,ibu pulang dengan tubuh yang penuh dengan lumpur,hal itu paling menyedihkan bagi saya,karna ibu harus bekerja menghidupi kami,sampai akhirnya ayah dibebaskan.


pekanbaru 02-desember-2011
oleh : Egi Maisa Aperta.


4 komentar:

  1. cerita ko mengharukan giii :( bagus ditulis dijadikan novel atau cerpenn,,,, hitung2 blajar.....
    pokoknya mantabbbbb

    BalasHapus
  2. makasi banyak rha
    wiiihhhh
    jadi makin semangat ni buat tulisan :D

    BalasHapus
  3. Dalam kehidupan serba modern kini, banyak orang yang semata mengejar materi.Institusi pendidikan sudah pula lama disusupi materialistis. Hingga, segalanya diukur dari uang. Itulah yang terjadi,Ananda, itulah realita. lantas, Bpk kemudian mengajar di FKIP UIR. Mata kuliah "menulis" mempertemukan Bpk dg ratusan orang mahasiswa. Termasuk Ananda. Dengan gaya apa adanya, Bpk mencoba mengajar. Semampu Bpk. Yang penting niat tulus. tak semata berharap materi.(Honor mengajar di UIr itu keeeeciiiilll...Nak). Tapi, ini soal kemanusiaan.
    Nah, Egi, ternyata sosok yang melihat peljaran ini dari sisi paling humanis. Sehingga Ananda merasakan makna di balik kesederhanaan dan keterbatasan yang Bpk miliki. Momen paling penting Ananda petik dari pelajaran kita. Ananda menulis tugas dengan "hati". Tulisan-tulisanmu sudah Bpk baca. Tentang Bpk di Blog-mu, Bpk baca dengan hati. Tapi air mata yang "bicara". Bpk orang yang sangat mudah terharu. Apalagi tentang mahasiswa. Toh, hanya terima kasih yang bisa Bpk ucapkan, atas penghormatan Ananda terhadap Bpk. Membaca tulisanmu bukan hanya senang. Juga memberi kesan pesona dan keharuan. Bpk doakan dikau Ananda, sehat dan panjang umur.Kelak, tercapai apa yang Ananda cita-citan.Salamku buat ortu di rumah. Thanks, my son. Be a good Author....(Dosenmu: El Wahyudi Panggabean)

    BalasHapus